|
Scanner Bandara Menelanjangi Tubuh
Wanita?
Alat x-ray scanner telanjang di bandara penerbangan belum lama diterapkan,
namun sudah mulai menuai protes dan timbulnya penyimpangan. Seperti
diketahui, alat scanner ini yang mampu 'menelanjangi' tubuh manusia,
walaupun hanya berupa semacam silhuet namun mampu membuat image yang cukup
jelas terhadap organ vital manusia. Tujuan alat ini dipasang untuk mencegah
aksi terorisme.
Namun kasus mulai muncul, insiden terjadi di Bandara Heathrow London,
seorang wanita bernama Jo Margetson (29) melaporkan seorang petugas
keamanan bandara, John Laker (25) ke polisi. John dinilai telah melakukan
perbuatan cabul lewat alat pemindai tubuh
antiteror tersebut. John mengambil foto
bagian dada Jo saat wanita itu melewati scanner.
"Petugas keamanan itu bilang 'Saya suka bagian dada kamu yang besar itu',"
ucap Margetson kepada the Sun, Kamis (25/3/2010).
Menurut Margetson, ia masuk ke alat pemindai itu secara tidak sengaja. Tanpa
disadari, tiba-tiba John sudah menekan tombol yang menampilkan gambar
seluruh tubuh Margetson.
Operator bandara London berjanji akan menindaklanjuti laporan Margetson.
Setiap penggunaan alat yang tidak sesuai dengan fungsinya akan diselidiki
secara serius.
"Kami menerima laporan tentang tindakan yang tidak sesuai dengan aturan.
Terutama yang menyangkut masalah peralatan keamanan. Kami melakukan
penyelidikan tentang hal itu secara serius," kata juru bicara bandara.
Sedangkan di Amerika Serikat, sejumlah tokoh ulama Amerika baru-baru ini
mengeluarkan imbauan bagi wisatawan muslim agar tidak melewati mesin
pemindai di bandara. Hal ini dikarnakan melanggar aturan agama Islam
"Ini adalah pelanggaran terhadap ajaran Islam, jelas bahwa laki-laki atau
perempuan dilihat telanjang oleh pria dan
wanita lain," jelas seorang ulama anggota Dewan Fiqh Amerika Utara. "Qur’an
telah memerintahkan orang yang beriman, baik laki-laki dan perempuan, untuk
menutupi bagian yang pribadi milik mereka," katanya.
Di Amerika Serikat, sekarang ada 19-40 empat puluh pemindai di bandara dan
akan bertambah hingga 450 pada akhir tahun. Pemasangan pemindai itu
digalakkan sebagai reaksi atas bobolnya bandara Detroit saat Imar Al Farouk
yang merencanakan peledakan sebuah pesawat. Beberapa kelompok Muslim Amerika
mendukung fatwa tersebut.
Untungnya di AS, menurut petugas Administrasi Keamanan Transportasi (TSA),
kaum Muslim bebas menetukan pilihan dalam hal pemeriksaan. Namun berbeda
dengan situasi di Inggris dimana para wisatawan yang menolak melewati
pemindai bisa dilarang memasuki negara tersebut.
"Kami mendukung pernyataan Dewan Fiqh bahwa pemindai itu mengganggu privasi
karena menunjukkan ketelanjangan. Kami ingin dihargai tetapi tetap dengan
memperhatikan keselamatan dan keamanan," kata direktur nasional Nihad Awad.
Sementara itu pihak Administrasi Keamanan Trasportasi tetap berkomitmen
bahwa mereka tidak akan merekam ketelanjangan masing-masing orang. Pemindai
tersebut hanya akan menunjukkan visualisasi garis bukan gambar.
"Misi kami menjaga agar masyarakat bisa bepergian dengan aman. Teknologi
pencitraan yang maju merupakan alat penting untuk sistem keamanan guna
mendeteksi ancaman yang berkembang seperti alat peledak," kata juru bicara
TSA.
"Penggunaan teknologi ini meliputi perlindungan di tempat yang kuat untuk
menjaga privasi penumpang. Pemutaran gambar secara otomatis dihapus, dan
petugas yang melihat gambar tidak akan pernah melihat penumpang secara
langsung."
Keputusan di tangan Anda, apakah akan percaya atau tidak jika tubuh Anda
memang tidak dinikmati petugas bandara?
(dikutip dari : berbagai sumber)
|